PENGARUH FISIOTERAPI DADA PADA ANAK PENDERITA PNEUMONIA
ARTIKEL
PENGARUH FISIOTERAPI DADA UNTUK MEMBANTU PENGOBATAN PADA ANAK PNEUMONIA
SARAH
p22040123456
Program Studi Diploma III Teknik Elektromedik
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II
abstrak
Pneumonia adalah penyakit infeksi pada paru-paru yang masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada bayi dan anak-anak di dunia. Pneumonia juga merupakan penyebab hampir selamanya (29%) kematian balita, dengan sekitar dua juta anak kehilangan nyawa setiap tahunnya.Menurut data UNICEF 2019, diperkirakan 2.200 anak meninggal akibat pneumonia setiap harinya. Pada tahun 2021, data WHO menyebutkan bahwa pneumonia menyebabkan 740.180 kematian pada anak di bawah usia 5 tahun.Tujuan artikel ini adalah untuk menjelaskan pengaruh fisioterapi dada terhadap perbaikan klinis anak yang dirawat karena pneumonia.Literature dicari dengan menggunakan Google Scholar, NCBI (National Centre for Biotechnology Information), dan jurnal Indonesia terakreditasi menggunakan kata kunci: “fisioterapi dada”, “pneumonia pada anak”, “chest physiotherapy”, “pneumonia in children”.pengaruh besar terhadap perbaikan klinis yang dialami responden dimanifestasikan dalam bentuk Respiratory Rate kembali ke rentang normal, Hearth Rate kembali ke rentang normal, peningkatan saturasi oksigen dan peningkatan kemampuan pengeluaran sputum sehingga jalan napas menjadi bersih. Fisioterapi dada mempunyai pengaruh terhadap perbaikan klinis anak yang mengalami pneumonia, fisioterapi dada juga dapat meningkatkan efek dari terapi lain yang diberikan pada anak yang mengalami pneumonia
Kata Kunci : Fisioterapi Dada, Pneumonia, Anak - anak.
PENDAHULUAN
Pneumonia adalah peradangan paru akut yang disebabkan oleh infeksi, bisa disebabkan oleh bakteri atau virus. Paru kita adalah satu-satunya tempat untuk pertukaran oksigen antara dunia luar dan tubuh kita, jika terjadi sesuatu pada paru-paru kita maka pertukaran oksigen akan terganggu yang selanjutnya akan menyebabkan tubuh kita menjadi kekurangan oksigen atau hipoksia. Anak yang mengalami hipoksia dapat dilihat dari gejala dan tanda-tandanya yaitu sesak napas atau kesulitan bernapas, napas cepat, muncul cekungan di dada bagian bawah saat anak bernapas, terlihat biru, napas terangguk-angguk, pada anak yang lebih kecil jadi lebih rewel, tidak bisa makan dan minum, bahkan bisa muntah, dan tidak sadarkan diri.“Pneumonia merupakan pembunuh utama balita di dunia dan di Indonesia. Pneumonia menyebabkan kematian pada balita lebih banyak di dunia dibandingkan gabungan penyakit AIDS, Malaria, dan Campak. Setiap tahun diperkirakan lebih dari 2 juta balita meninggal karena pneumonia,” ujar Imran ketika menyampaikan sambutan pada acara Peringatan World Pneumonia Day 2023 dan Peluncuran Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Pneumonia Diare 2023-2030, di Jakarta, Kamis 9 November 2023.
Berdasarkan data WHO tahun 2019, pneumonia menyebabkan 14% dari seluruh kematian anak di bawah 5 tahun dengan total kematian 740.180 jiwa. Data Riskesdas Indonesia tahun 2018, penderita pneumonia meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada kelompok usia 55-64 tahun mencapai 2,5%, pada kelompok usia 65-74 tahun sebesar 3,0% dan pada kelompok usia 75 tahun keatas mencapai 2,9%.Perawatan standar untuk pasien dengan pneumonia adalah perawatan antibiotik dan terapi simptomatik, termasuk pemberian oksigen, terapi cairan, fisioterapi dada dan pengisapan untuk mengevakuasi lendir dari saluran pernapasan. Tujuan perawatan standar tersebut untuk meningkatkan ventilasi, dan mengurangi kerja pernapasan. Salah satu dari beberapa perawatan standar yang sering diberikan pada anak yang mengalami pneumonia adalah fisioterapi dada. Fisioterapi dada secara efektif memobilisasi sekresi trakeobronkial pada anak dengan pneumonia yang dinilai berdasarkan parameter klinis individu seperti frekuensi pernapasan dan saturasi oksigen.
Fisioterapi dada adalah terapi tambahan penting dalam pengobatan sebagian besar penyakit pernapasan untuk anak-anak dengan penyakit pernapasan. Tujuan utama fisioterapi dada untuk anak-anak adalah untuk membantu pembersihan sekresi trakeobronkial, sehingga menurunkan resistensi jalan napas, meningkatkan pertukaran gas, dan membuat pernapasan lebih mudah. Teknik fisioterapi yang diterapkan untuk anak-anak mirip dengan orang dewasa. Teknik fisioterapi dada terdiri atas drainase postural, clapping, vibrasi, perkusi, napas dalam dan batuk efektif yang bertujuan untuk memudahkan pembersihan mukosiliar.
Peningkatan sekresi paru pada pneumonia menimbulkan obstruksi pada jalan napas sehingga mengganggu ventilasi. Gangguan ventilasi menimbulkan akan terlihat pada manifestasi klinis anak yaitu penurunan saturasi oksigen dan peningkatan frekuensi pernapasan. Penanganan yang tepat akan mengurangi risiko komplikasi berupa gagal napas. Penanganan dengan tindakan fisioterapi dada merupakan terapi yang dapat mengefektifkan fungsi dari terapi lain, misalnya: pemberian obat – obat mukolitik maupun ekspektoran. Melalui literature review ini akan dapat dijelaskan tentang pengaruh fisioterapi dada terhadap perbaikan klinis pasda anak yang mengalami pneumonia.
PEMBAHASAN
1. Pengaruh Fisioterapi Dada Terhadap Pengeluaran Sputum
Pada penyakit pneumonia akan terjadi gangguan respiratori yaitu batuk, disertai produksi secret berlebih, sesak napas, retraksi dada, takipnea, dan lain-lain. Bila terjadi infeksi atau iritasi, akan mengkonpensasi dengan cara tubuh menghasilkan banyak mukus tebal untuk membantu paru menghindari infeksi. Bila mukus yang terlalu banyak dan kental menyumbat jalan napas, dan pernapasan menjadi lebih sulit. Fisioterapi dada sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. Fisioterapi dada adalah salah satu fisioterapi yang menggunakan teknik postural drainage, perkusi dada dan vibrasi. Secara fisiologis Perkusi pada permukaan dinding akan mengirimkan gelombang berbagai amplitude dan frekuensi sehingga dapat mengubah konsistensi dan lokasi secret.Penelitian yang dilakukan oleh Maidartati (2014) menunjukkan hasil bahwa fisioterapi dada dapat membersihkan jalan napas pada 67% responden balita usia 1–5 tahun. Hasil penelitian lainnya didapatkan bahwa pada intervensi fisioterapi dada pertama belum terjadi perubahan terhadap bersihan jalan napas, tetapi pada intervensi berikutnya terjadi perubahan terhadap bersihan jalan napas dan perubahan yang sangat signikan terjadi pada intervensi kedua (sore hari) hari kedua. Semakin lama intervensi yang dilakukan maka akan semakin terlihat perubahan terhadap bersihan jalan napas balita. penilaian terhadap pengeluaran sputum pada anak usia 6-12 tahun setelah dilakukan fisioterapi dada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fisioterapi dada berpengaruh terhadap pengeluaran sputum.
2.jenis - jenis tindakan fisioterapi dada
1. Drainase Postural
Postural Drainage adalah teknik dengan memposisikan tubuh pasien untuk membantu mengeluarkan lendir/dahak berlebih yang menumpuk di dalam paru-paru atau saluran pernapasan. Dalam metode ini, pasien diposisikan pada berbagai posisi yang bertujuan mengalirkan lendir menuju bagian atas saluran pernapasan sehingga lendir akan lebih mudah dikeluarkan saat pasien batuk atau bernapas dalam. Fisioterapis akan memastikan bahwa posisi pasien tepat untuk masing-masing segmen saluran pernapasan. Drainase postural digunakan untuk pasien dengan produksi lendir yang berlebihan atau gangguan pernapasan kronis, seperti PPOK atau fibrosis kistik. Meskipun teknik ini efektif, penggunaannya harus diarahkan oleh fisioterapis yang dilatih untuk memastikan keselamatan dan efektivitas prosedur.
2. Perkusi Dada
Perkusi dada menggunakan tepukan atau pukulan lembut pada dada pasien dengan tujuan mengeluarkan lendir yang menumpuk di dalam saluran pernapasan seperti pada kondisi fibrosis kistik, bronkitis, atau PPOK. Teknik ini biasanya dilakukan dengan menampar nepuk menggunakan tangan dengan posisi jari-jari seperti mangkuk atau dengan bantuan alat khusus yang dapat menghasilkan getaran lembut pada dada. Perkusi dada biasanya dilakukan di area tertentu pada dada, punggung, atau bagian samping tubuh.
3. Teknik Tekanan Ekspirasi Positif (PEPT)
Teknik Tekanan Ekspirasi Positif (PEPT) bertujuan mengeluarkan lendir dari saluran pernapasan dengan menggunakan tekanan saat pasien mengeluarkan napas. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti perangkat PEPT atau alat hawthorn.
Cara kerjanya adalah sebagai berikut:
- Pasien menarik napas dalam-dalam.
- Saat menghembuskan napas, pasien menutup mulut dan hidungnya sehingga udara tertahan di dalam paru-paru.
- Aliran udara yang tertahan akan menimbulkan tekanan di saluran pernapasan, membantu membuka saluran yang mungkin tertutup oleh lendir.
- Ketika pasien membuka mulutnya, udara yang tertahan akan keluar, membawa lendir dan partikel-partikel keluar dari saluran pernapasan.
- Proses ini diulang beberapa kali selama sesi fisioterapi
Teknik ini direkomendasikan untuk pasien dengan gangguan pernapasan, seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), fibrosis kistik, atau bronkitis kronis.
4. Teknik Siklus Pernapasan Aktif (ACBT)
Selain mengeluarkan lendir berlebih, Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) juga digunakan untuk meningkatkan kapasitas paru-paru. Teknik ini meliputi siklus pernapasan yang terstruktur, yang terdiri dari tiga tahap utama:
- Napas Dangkal: Pasien diminta untuk bernapas secara halus dan rileks selama beberapa napas. Bertujuan untuk mempersiapkan napas dan membangkitkan sensasi napas.
- Napas Dalam: Pada tahap ini, pasien diinstruksikan untuk bernapas lebih dalam dan perlahan. Ini membantu memperluas area saluran pernapasan dan membantu pembukaan alveoli (kantong udara di paru-paru) yang mungkin terkekang oleh lendir.
- Teknik Huffing: Teknik huffing melibatkan napas yang kuat dan singkat, dengan suara “huff” yang dihasilkan saat mengeluarkan napas. Ini membantu menggerakkan lendir ke saluran pernapasan yang lebih besar sehingga mudah untuk dikeluarkan saat pasien batuk atau mengeluarkan napas kuat.
ACBT sering digunakan untuk pasien dengan gangguan pernapasan kronis, seperti asma, bronkitis kronis, atau fibrosis kistik, serta bagi yang mengalami produksi lendir berlebihan dalam saluran pernapasan.
5. Spirometer Insentif
spirometer Insentif digunakan untuk membantu pasien memperbaiki pola pernapasan, meningkatkan kapasitas paru-paru, dan kondisi mengatasi, seperti PPOK, bronkitis, atau kondisi pernapasan lainnya. Cara kerjanya sederhana, yaitu pasien menghirup melalui alat ini dengan tenaga kinerja mungkin dan tindakan ini menggerakkan perangkat yang menunjukkan gambar atau indikator angka. Tujuannya utamanya memberikan insentif visual kepada pasien, memberikan umpan balik langsung mengenai seberapa dalam dan mengetahui seberapa kuat pasien mampu bernapas mendorong pasien mengambil napas lebih dalam dan lebih kuat, membantu melatih otot pernapasan, memperbaiki ventilasi paru-paru, serta secara bertahap meningkatkan kapasitas paru-paru.
3. Pengaruh Fisioterapi Dada Terhadap Lama Rawat, Kemampuan Menyusu dan Kebutuhan Oksigen
Fisioterapi dada telah digunakan untuk membersihkan sekresi, mencegah akumulasi puing-puing, meningkatkan mobilisasi sekresi saluran udara dan membantu ventilasi paru-paru pada bayi baru lahir dengan masalah pernapasan dan ini meningkatkan efisiensi dan sirkulasi oksigenasi. Mengenai durasi yang dibutuhkan untuk ventilasi mekanik atau kebutuhan oksigen, hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan. Fisioterapi dada akan mengurangi atelektasis paru-paru pada pasien, meningkatkan ventilasi dan perfusi Tindakan fisioterapi dada dilakukan pada fase konsolidasi untuk kasus pneumonia. Mengenai durasi yang dibutuhkan untuk pemberian nutrisi oral dalam penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik. Responden pada kelompok intervensi lebih awal mampu menerima nutrisi per oral karena durasi ketergantungan terhadap oksigen lebih pendek. Kondisi tersebut juga mengurangi lama hari rawat responden di rumah sakit (Sebban et al., 2019).
4. Pelaksanaan Fisioterapi Dada
Beberapa penelitian dalam literature review ini menyebutkan bahwa fisioterapi dada dikombinasikan dengan terapi standar lainnya. Langkah – langkah prosedur fisioterapi dada tidak dijelaskan lebih lanjut dan jenis terapi standar yang digunakan juga tidak dijelaskan. Hasil yang didapatkan setelah fisioterapi dada adalah terjadi perubahan klinis ke arah yang lebih baik pada responden. Perubahan klinis tersebut ditunjukkan dengan hasil frekuensi napas kembali rentang normal, frekuensi denyut nadi ke rentang normal, saturasi oksigen meningkat, dan peningkatan pengeluaran sputum.
Penelitian lainnya menyampaikan secara singkat prosedur fisioterapi dada, yaitu penelitian Abdelbasset & Elnegamy (2015) menjelaskan bahwa Fisioterapi dada dilakukan selama 20 menit setiap sesi dengan tindakan drainase postural, perkusi dada, getaran, stimulasi batuk dan aspirasi sekresi (jika perlu). Posisi drainase postural didasarkan pada hasil foto thorak untuk memberikan drainase sekresi dan eksudat yang lebih efektif dari area yang terdapat sekresi dan eksudat. Fisioterapi menggunakan Infra red, dan Chest physiotherapy (Deep breathing, Postural drainage, Clapping, Vibrasi, dan Batuk efektif) terhadap Bronchopneumonia yang dapat bermanfaat untuk menghilangkan adanya sesak napas dan sputum pada paru kanan lobus superior segmen anterior pada pasien. Fisioterapi dada terdiri dari postural drainage, vibrasi dan perkusi dikombinasikan dengan pemberian terapi inhalasi melalui nebulizer. Fisioterapi dada diberikan 1-1,5 jam setelah makan selama 30 menit.
Terdapat 1 penelitian yang menjelaskan secara lengkap prosedur fisioterapi dada yang dilakukan, yaitu penelitian (Mehrem et al., 2018). Pada penelitian tersebut, fisioterapi dada dilakukan selama 3-5 menit untuk setiap segmen dengan drainase postural, getaran, dan perkusi. Setiap sesi dilakukan sekali sehari selama 6 hari/minggu. Setiap sesi proses fisioterapi dada memerlukan waktu 30 menit yang meliputi drainase postural, perkusi dan vibrasi. Pada drainase postural, pasien diposisikan dalam, sehingga gravitasi memiliki efek terbesar pada segmen paru-paru yang harus didrainase. Perkusi dada dilakukan dengan memanfaatkan tiga jari, empat jari, atau menggunakan alat perkusi yang dibuat untuk neonatus. Setelah perkusi dilakukan gerakan getaran manual jari-jari pada dada bayi. Dengan meletakkan jari-jari satu tangan pada dada bayi, membuat otot-otot lengan bawah dan tangan menyebabkan gerakan getaran yang halus dan tangan lainnya menopang kepala bayi.
Kesimpulan
Fisioterapi dada mempunyai pengaruh besar terhadap perbaikan klinis anak yang dirawat karena Pneumonia. Perbaikan klinis yang dialami responden dimanifestasikan dalam bentuk Respiratory Rate kembali ke rentang normal, Hearth Rate kembali ke rentang normal, peningkatan saturasi oksigen dan peningkatan kemampuan pengeluaran sputum sehingga jalan napas menjadi bersih. Fisioterapi dada juga mempengaruhi lama rawat inap neonatus dan mempercepat kemampuan neonatus untuk minum ASI secara langsung melalui oral. Fisioterapi dada mempunyai pengaruh terhadap perbaikan klinis anak yang mengalami pneumonia, fisioterapi dada juga dapat meningkatkan efek dari terapi lain yang diberikan pada anak yang mengalami pneumonia
referensi
https://p2p.kemkes.go.id/pneumonia-menjadi-ancaman-kesakitan-dan-kematian-di-dunia/
https://kemkes.go.id/id/rilis-kesehatan/pemerintah-berkomitmen-turunkan-kasus-kematian-akibat-pneumonia
https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1937&context=kesmas



informatif sekalii
BalasHapussangat membantuu
BalasHapusMasyaallahh
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusbagus sangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMembantu banget
BalasHapusKeereeenn😍
BalasHapussangat lengkap terimakasih
BalasHapusSangat membantu dan mudah di pahami
BalasHapusini berlaku ngga ke dada ayam?
BalasHapuskeren banget
BalasHapusbagus dan mudah di mengerti
BalasHapushebat sekali artikelnya keren #Allahummabarik
BalasHapus